Categories
Bisnis

Komisaris Independen Garuda Indonesia Thomas Oentoro Mengundurkan Diri Usai Diangkat Jadi Direktur INA

bachkim24h.com, Jakarta – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) telah menerima surat pengunduran diri komisaris independen Tomas Ontoro pada 11 Februari 2024.

Dalam pengajuan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (14/2/2024), manajemen PT Garuda Indonesia Tbk menyebutkan Tomas Ontoro mengundurkan diri sebagai komisaris independen menyusul pengangkatannya sebagai anggota direksi. Lembaga Manajemen Investasi atau Otoritas Investasi Indonesia (INA). Beliau akan menjadi anggota Direksi INA mulai 15 Februari 2024.

Selain mengambil keputusan atas permohonan pengunduran diri Thomas Ontoro, perseroan menyatakan akan mengambil tindakan yang diperlukan terkait surat pengunduran diri yang dikirimkan sesuai dengan ketentuan terkait.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk Irfan Setiaputra mengatakan, “Tidak ada dampak langsung terhadap operasional perseroan, namun perseroan akan memastikan seluruh operasional berjalan lancar.”

Tomas Ontoro Garuda telah dilantik sebagai Komisaris Independen Indonesia untuk tahun anggaran 2022 pada Selasa, 30 Mei 2023.

Lahir pada 8 September 1970, ia menyelesaikan gelar masternya di University of Chicago pada tahun 2012, demikian catatan situs Garuda Indonesia. Sebelum menjabat sebagai Komisaris Independen Garuda Indonesia, beliau menjabat sebagai Vice President Mezzanine Capital Unit OCBC pada tahun 2015 hingga sekarang. .

Selain itu, beliau sebelumnya menjabat sebagai Managing Director KV Asia Capital dari tahun 2011 hingga 2015, Senior Investment Officer di International Finance Corporation dari tahun 2004 hingga 2011, dan Banker Citigroup Indonesia dari tahun 1995 hingga 2004. menjabat sebagai wakil presiden senior.

Diberitakan sebelumnya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mengumumkan pengajuan gugatan terhadap perseroan dan Graylog.

Pengadilan Tinggi secara resmi telah menolak putusan atas permohonan pembatalan Garuda Indonesia sebelumnya.

Sebelumnya, entitas Graylog mengajukan dua permohonan untuk membatalkan keputusan homologasi yang dibuat Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada pertengahan tahun 2022.

Penolakan tunai tersebut memberikan optimisme bagi Garuda Indonesia untuk melanjutkan momentum positif dalam mengakselerasi kinerjanya menjadi bisnis dengan fundamental operasional yang lebih menjanjikan di masa depan.

Atas keputusan tersebut, Garuda Indonesia kini fokus pada langkah-langkah optimalisasi kinerja seperti peningkatan pangsa pasar dan keuntungan bisnis, peningkatan posisi ekuitas, dan pemenuhan kewajiban bisnis kepada kreditur, kata Presiden Garuda Indonesia Irfan. iaputra pada Kamis (1/2/2024).

Terkait penolakan permohonan kasasi entitas Greylag, Garuda Indonesia sebagai perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memperkuat tingkat kepercayaan pemegang saham di pasar modal dengan menerbitkan standar “Special Control Effects”. “B” adalah simbol khusus dalam kode perusahaan. Tercatat syarat-syarat tuntutan pembatalan perdamaian itu memprihatinkan.

Pencabutan dan penetapan standar sesuai dengan putusan Pengadilan Tinggi (MA) 1 untuk menolak kasasi Greylag Enterprises. 1294 K/Pd.Sus-Bankrot/2023 dan No. 1296 K/Pd.Sus-Bankrot/2023 Oleh karena itu, putusan kasasi mempunyai kekuatan hukum tetap.

Garuda Indonesia saat ini terus mengoptimalkan kinerja keuangannya untuk menyelesaikan penarikan standar lain terkait kepemilikan saham Garuda Indonesia.

Saat ini Garuda Indonesia telah masuk dalam daftar efek dalam pengendalian khusus Kriteria 5 dan mencatatkan ekuitas negatif pada laporan keuangan terbaru perseroan.

Irfan, kami berharap kriteria “efek pengendalian positif” dihapuskan secara bertahap sesuai dengan perspektif bisnis, yang akan menjadi perkembangan positif.

Pada kuartal III 2023, Garuda Indonesia diperkirakan akan mencatatkan total pendapatan sebesar US$2,23 miliar, naik 48 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$1,5 miliar.

Pendapatan operasional perseroan turut berkontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan usaha Garuda Indonesia pada kuartal III 2023, dengan kenaikan penerbangan berjadwal sebesar 49,02 persen year-on-year (YoY) menjadi US$1,72 miliar, sedangkan penerbangan tidak berjadwal mencapai US$1,72 miliar. 274,25 juta dan pendapatan lain-lain mencapai $234,91 juta.

Garuda Indonesia berhasil mengangkut 14,28 juta penumpang secara rombongan hingga triwulan III tahun 2023 (September 2023), hal ini juga terlihat dari tren pertumbuhan kinerja bisnis yang mencapai pertumbuhan 36,05 persen dibandingkan lalu lintas penumpang. Periode serupa. Pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, trafik penumpang merek Garuda Indonesia juga mengalami peningkatan sebesar 55,48 persen menjadi 5,76 juta penumpang, yang terdiri dari 4,58 juta penumpang domestik dan 1,18 juta penumpang internasional yang masing-masing menyumbang peningkatan 41,44 persen dan 153,75 persen. Periode yang sama tahun lalu.

“Seiring dengan terus membaiknya kinerja keuangan, terutama didorong oleh pertumbuhan pendapatan, kami memperkirakan pemulihan produktivitas di masa depan akan berangsur-angsur menjadi positif,” kata Irfan.